Pendekatan
Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah
Menurut
Edward M. Anthoni tahun 1963, Pendekatan adalah seperangkat asumsi korelatif
yang menangani hakikat bahasa, pengajaran bahasa, dan pembelajaran bahasa.
Pendekatan bersifat aksiomatik.
Ada
beberapa macam pendekatan diantaranya pendekatan pragmatik, pendekatan CBSA,
pendidikan keterampilan, proses pendekatan spiral, dan pendekatan lintas
materi. Apa yang dimaksud dengan pendekatan dalam pengajaran bahasa, banyak
asumsi mengenai pendekatan bahasa. Pendekatan adalah seperangkat asumsi
mengenai hakikat bahasa, pengajaran bahasa, dan proses belajar-mengajar bahasa
(Kosadi, dkk: 1979). Pendekatan adalah seperangkat asumsi korelatif yang
menangani teori bahasa dan teori pemerolehn bahasa (Tarigan, 1989). Pendekatan
adalah serangkaian asumsi yang bersifat aksiomatik tentang sifat hakikat bahsa,
pengajaran bahasa, dan belajar bahsa ( Djunadi: 1989).
Ketiga
jawaban tersebut diatas hampir sama. Ketiganya pun tidak menyinggung tentang fungsi pendekatan, yakni, sebagai
landasan merancang, melaksanakan, dan menilai proses belajar-mengajar bahasa.
Dengan memasukan unsur fungsi tersebut maka dapat disusun definisi pendekatan
lebih lengkap lebih komprehensif seperti berikut. Pendekatan adalah seperangkat
asumsi bersifat aksiomatik mengenai hakikat bahasa , pengajaran bahasa, dan
belajar bahasa yang digunakan sebagai landasan dalam merancang, melaksanakan
dan menilai proses belajar-mengajar bahasa.
Pendekatan merupakan seperangkat asumsi
yang aksiomatik tentang hakikat bahasa, pengajaran dan belajar bahasa yang
dipergunakan sebagai landasan dalam merancang, melaksanakan dan menilai proses
belajar-mengajar bahasa. Asumsi tentang bahasa bermacam-macam, antara lain
asumsi yang menganggap bahasa sebagai kebiasaan; bahasa sebagai sistem
komunikasi dan ada pula yang menganggap bahasa sebagai seperangkat
peraturan/kaidah (Tatat
Hartati, M.Ed.Ph.D).
Di bawah ini akan dibahas beberapa
pendekatan yang selayaknya difahami oleh guru-guru sekolah dasar, baik guru
kelas maupun guru bidang studi.
1.
Pendekatan Behaviorisme
Kelompok ini berpandangan bahwa
proses penguasaan kemampuan berbahasa anak sebenarnya dikendalikan dari luar
sebagai akibat berbagai rangsangan yang diterapkan lingkungan kepada Si Anak.
Bahasa sebagai wujud perilaku manusia merupakan kebiasaan yang harus dipelajari.
Jadi kemampuan berkomunikasi anak melalui bahasa pada dasarnya sangat
ditentukan oleh stimulus-respon dan peniruan-peniruan.
2.
Pendekatan Nativisme
Pandangan ini berpendapat bahwa
anak sudah dibekali secara alamiah dengan apa yang disebut LAD (Language
Acquisition Device). LAD sudah diprogramkan untuk mengolah butir-butir
tatabahasa yang dianggap sebagai suatu bagian dari otak. LAD membekali anak
dengan kemampuan alamiah untuk dapat berbahasa. Dengan demikian belajar
berbahasa pada hakikatnya hanyalah mengisi detail dalam struktur yang sudah ada
secara alamiah.
3.
Pendekatan Kognitif
Kemapuan berbahasa anak berasal dan
diperoleh sebagai akibat dari kematangan kognitif anak. Bahasa dalam pandangan
kognitif distrukturlisasi dan dikendalikan oleh nalar. Dengan demikian
perkembangan kognisi sangat berpe ngaruh pada perkembangan bahasa.
4.
Pendekatan Interaksi Sosial
Pendekatan ini merupakan perpaduan
teori-teori yang telah disebutkan di atas.Kesimpulan teori-teori bahasa anak
mempunyai potensi dasar (kognitif) dari bawaannya yang tidak terlepas dari
pengaruh lingkungan melalui proses interaksi. Inti pembelajaran interaktif
adalah siswa membuat pertanyaan atau mencari masalah sendiri dan berusaha
menyelesaikan sendiri. Hal ini akan meningkatkan kreativitas dan berfikir
kritis mereka.
5.
Pendekatan Tujuan
Penerapan
pendekatan tujuan ini sering dikaitkan dengan ‘’cara belajar tuntas’’. Dengan
‘’cara belajar tuntas’’, berarti suatu kegiatan belajar mengajar dianggap
berhasil, apabila sedikit-dikitnya 85% dari jumlah siswa yang mengikuti
pelajaran itu menguasai minimal 75% dari bahan ajar yang diberikan oleh guru. Penetuan
keberhasilan itu didasarkan hasil tes sumatif; jika sekurang-kurangnya 85% dari
jumlah siswa dapat mengerjakan atau dapat menjawab dengan betul minimal 75%
dari soal yang diberikan oleh guru maka pembelajaran dapat dianggap berhasil.
6.
Pendekatan Struktural
Pandangan ini berpendapat bahwa
bahasa adalah data yang didengar/ditulis untuk dianalisis sesuai dengan
tatabahasa. Jadi belajar bahasa adalah belajar strukturstruktur (tatabahasa).
7.
Pendekatan Komunikatif
Pendekatan komunikatif didasarkan
pada pandangan bahwa bahasa adalah saranaberkomunikasi. Karena itu tujuan utama
pengajaran bahasa adalah meningkatkanketerampilan berbahasa siswa, bukan kepada
pengetahuan tentang bahasa,pengetahuan bahasa diajarkan untuk menunjang
pencapaian keterampilan bahasa.
8.
Pendekatan Pragmatik
Pendekatan ini mengutamakan
keterampilan berbahasa dengan memperhatikan faktor-faktor penentu berbahasa, seperti:
pemeran serta, tujuan, situasi, konteks juga aspek pengembangan: emosi, moral,
sosial dan intelektual.
9.
Pendekatan “Whole Language”
Suatu pendekatan untuk
mengembangkan mengajarkan bahasa yang dilaksanakan secara menyeluruh, meliputi:
mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Keterampilan tersebut memiliki
hubungan yang interaktif yang tidak terpisahpisah dengan aspek kebahasaan:
fonem, kata, ejaan, kalimat, wacana dan sastra. Di samping itu pendekatan ini
juga mementingkan multimedia, lingkungan, dan pengalaman belajar anak.
10.
Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning atau CTL)
Merupakan konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia
nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang
dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga
dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna
bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa
bekerja dan mengalamai, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi
pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam konteks itu, siswa perlu
mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan
begaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi
hidupnya nanti. Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang
memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti.
Pendekatan kontekstual bertujuan membekali
siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer)
dari satu permasalahan ke permasalahan lain dan dari satu konteks ke konteks
lainnya. Dengan transfer diharapkan
(a) Siswa
belajar dari mengalami sendiri, bukan dari ‘pemberian orang lain.
(b) Peterampilan dan pengetahuan itu
diperluas dari konteks yang terbatas (sempit) sedikit demi sedikit.
(c) Penting bagi siswa tahu ‘untuk apa’ ia
belajar, dan ‘bagaimana’ ia menggunakan
pengetahuan dan keterampilan itu.
11.
Pendeka Terpadu
Pendekatan terpadu dalam bidang
bahasa hampir sama dengan pendekatan “Whole Language”, yang pada
dasarnya pembelajaran bahasa senantiasa harus terpadu, tidak terpisahkan antara
keterampilan berbahasa(menyimak,berbicara,membaca,menulis) dengan komponen
kebahasaan (tatabunyi, tatamakna, tatabentuk, tatakalimat) juga aspek sastra.
Di samping itu untuk kelas-kelas rendah pendekatan terpadu ini menggunakan
jenis pendekatan lintas bidang studi, yang artinya pembelajaran Bahasa
Indonesia dapat disatukan dengan mata pelajaran lain seperti: Pendidikan Agama,
Matematika, Sains, Pengetahuan Sosial, Kesenian dan Pendidikan Jasmani.
12.
Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
Pendekatan ini merupakan suatu
sistem pembelajaran yang menekankan kadar keterlibatan siswa secara fisik,
mental, intelektual dan emosional untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kadar
CBSA dapat dilihat dari aktivitas belajar siswa tinggi, aktivitas guru sebagai
fasilitator, desain pembelajaran berfokus pada keterlibatan siswa, suasana
belajar kondusif. Misal:dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas satu,
dapat dilaksanakan secara individual, kelompok atau klasikal. Kegiatan secara
individual dapat membaca nyaring (bagi siswa yang sudah lancar membaca), dapat
pula membaca gambar, menyusun balok-balok huruf menjadi kata, menjodohkan
gambar dan kata.
13. Pendekatan Keterampilan Proses
Keterampilan proses adalah
kemampuan yang dibangun oleh sejumlah keterampilan dalam proses pembelajaran
yang meliputi:
1. keterampilan intelektual
2. keterampilan sosial
3. keterampilan fisik
Keterampilan proses berfungsi
sebagai alat menemukan dan mengembangkan konsep. Konsep itu akan menunjang pula
keterampilan proses. Keterampilan proses dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia
meliputi kegiatan: mengamati, menggolongkan, menafsirkan, menerapkan, dan
mengkomunikasikan.
Asumsi
lain tentang pendekatan yaitu: Ada beberapa pendekatan yang masih dominan
digunakan dalam pembelajaran bahasa yaitu pendekatan komunikatif, CBSA,
integrative dan komunikatif.
a. Pendekatan
komunikatif
Komunikatif adalah pembelajaran
bahasa yang mengemukakan kemampuan penggunaan menggunakan bahasa dalam konteks
komunikasi (keterampilam wicara dan menulis. Prinsip-prinsip pengajaran bahasa
Indonesia dengan pendekatan komunikatif sebagai berikut:
1)
Pragmatic, struktur dan
kosa kata tidak disajikan sebagai pokok bahasan yang
berdiri
sendiri karena kosa kata, prakmatik dan struktur telah tercakup dalam
pengajaran keempat keterampilan pembelajaran bahasa tersebut.
2)
Pembelajaran bahasa
untuk melatih kepekaan siswa. Maksudnya siswa tidak hanya
diinformasikan
secara lugas atau langsung tetapi harus mampu juga memahami informasi yang
disampaikan.
3)
Pembelajaran bahasa
selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa juga
menungkatkan
untuk bernalar, meningkatkan wawasan, mengembangkan kemampuan hayati keindahan
karya sastra seperti: membaca puisi, menyanyi, bercerita dan bermain drama.
4)
Pembelajaran bahasa
juga diarahkan untuk membekali siswa menguasap bahasa lisan dan tulis, misalya
mengungkapkan berbagai informasi yang didapat secara lisan dan tertulis .
b.
Pendekatan cara belajar
siswa aktif (CBSA)
Yang dimaksud dengan CBSA adalah
cara belajar yang mengutamakan kadar keterlibatan siswa secara aktif baik fisik
maupun mental. Yang perlu dipahami dalam pelaksanaan CBSA adalah anak dapat
belajar secara kelompok ataupun individual. Anggapan CBSA identik sebagai
belajar kelompok itu tidak benar.
c.
Pendekatan integrative
dan tematik
Yang dimaksud dengan pendekatan integrative
adalah pendekatakan pembelajaran bahasa yang disajikan secara utuh tidak
terpotong-potong dan
bersumber
pada satu tema.
Mencakup
keempat aspek yaitu:
1.Mendengarkan
2.Berbicara
2.Berbicara
3.Membaca
4.Menulis
4.Menulis
misalnya:“Temakesehatan”
Keempat aspek tersebut bersumber pada kesatuan tema kesehatan. Integrative
Keempat aspek tersebut bersumber pada kesatuan tema kesehatan. Integrative
materi
juga diikat oleh sebuah tema.
No comments:
Post a Comment