Tuesday, December 17, 2013

Pendekatan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah

Pendekatan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Kelas Rendah
            Menurut Edward M. Anthoni tahun 1963, Pendekatan adalah seperangkat asumsi korelatif yang menangani hakikat bahasa, pengajaran bahasa, dan pembelajaran bahasa. Pendekatan bersifat aksiomatik.
            Ada beberapa macam pendekatan diantaranya pendekatan pragmatik, pendekatan CBSA, pendidikan keterampilan, proses pendekatan spiral, dan pendekatan lintas materi. Apa yang dimaksud dengan pendekatan dalam pengajaran bahasa, banyak asumsi mengenai pendekatan bahasa. Pendekatan adalah seperangkat asumsi mengenai hakikat bahasa, pengajaran bahasa, dan proses belajar-mengajar bahasa (Kosadi, dkk: 1979). Pendekatan adalah seperangkat asumsi korelatif yang menangani teori bahasa dan teori pemerolehn bahasa (Tarigan, 1989). Pendekatan adalah serangkaian asumsi yang bersifat aksiomatik tentang sifat hakikat bahsa, pengajaran bahasa, dan belajar bahsa ( Djunadi: 1989).
            Ketiga jawaban tersebut diatas hampir sama. Ketiganya pun tidak menyinggung  tentang fungsi pendekatan, yakni, sebagai landasan merancang, melaksanakan, dan menilai proses belajar-mengajar bahasa. Dengan memasukan unsur fungsi tersebut maka dapat disusun definisi pendekatan lebih lengkap lebih komprehensif seperti berikut. Pendekatan adalah seperangkat asumsi bersifat aksiomatik mengenai hakikat bahasa , pengajaran bahasa, dan belajar bahasa yang digunakan sebagai landasan dalam merancang, melaksanakan dan menilai proses belajar-mengajar bahasa.
Pendekatan merupakan seperangkat asumsi yang aksiomatik tentang hakikat bahasa, pengajaran dan belajar bahasa yang dipergunakan sebagai landasan dalam merancang, melaksanakan dan menilai proses belajar-mengajar bahasa. Asumsi tentang bahasa bermacam-macam, antara lain asumsi yang menganggap bahasa sebagai kebiasaan; bahasa sebagai sistem komunikasi dan ada pula yang menganggap bahasa sebagai seperangkat peraturan/kaidah (Tatat Hartati, M.Ed.Ph.D).
Di bawah ini akan dibahas beberapa pendekatan yang selayaknya difahami oleh guru-guru sekolah dasar, baik guru kelas maupun guru bidang studi.
1. Pendekatan Behaviorisme
Kelompok ini berpandangan bahwa proses penguasaan kemampuan berbahasa anak sebenarnya dikendalikan dari luar sebagai akibat berbagai rangsangan yang diterapkan lingkungan kepada Si Anak. Bahasa sebagai wujud perilaku manusia merupakan kebiasaan yang harus dipelajari. Jadi kemampuan berkomunikasi anak melalui bahasa pada dasarnya sangat ditentukan oleh stimulus-respon dan peniruan-peniruan.

2. Pendekatan Nativisme
Pandangan ini berpendapat bahwa anak sudah dibekali secara alamiah dengan apa yang disebut LAD (Language Acquisition Device). LAD sudah diprogramkan untuk mengolah butir-butir tatabahasa yang dianggap sebagai suatu bagian dari otak. LAD membekali anak dengan kemampuan alamiah untuk dapat berbahasa. Dengan demikian belajar berbahasa pada hakikatnya hanyalah mengisi detail dalam struktur yang sudah ada secara alamiah.

3. Pendekatan Kognitif
Kemapuan berbahasa anak berasal dan diperoleh sebagai akibat dari kematangan kognitif anak. Bahasa dalam pandangan kognitif distrukturlisasi dan dikendalikan oleh nalar. Dengan demikian perkembangan kognisi sangat berpe ngaruh pada perkembangan bahasa.

4. Pendekatan Interaksi Sosial
Pendekatan ini merupakan perpaduan teori-teori yang telah disebutkan di atas.Kesimpulan teori-teori bahasa anak mempunyai potensi dasar (kognitif) dari bawaannya yang tidak terlepas dari pengaruh lingkungan melalui proses interaksi. Inti pembelajaran interaktif adalah siswa membuat pertanyaan atau mencari masalah sendiri dan berusaha menyelesaikan sendiri. Hal ini akan meningkatkan kreativitas dan berfikir kritis mereka.

5. Pendekatan Tujuan
Penerapan pendekatan tujuan ini sering dikaitkan dengan ‘’cara belajar tuntas’’. Dengan ‘’cara belajar tuntas’’, berarti suatu kegiatan belajar mengajar dianggap berhasil, apabila sedikit-dikitnya 85% dari jumlah siswa yang mengikuti pelajaran itu menguasai minimal 75% dari bahan ajar yang diberikan oleh guru. Penetuan keberhasilan itu didasarkan hasil tes sumatif; jika sekurang-kurangnya 85% dari jumlah siswa dapat mengerjakan atau dapat menjawab dengan betul minimal 75% dari soal yang diberikan oleh guru maka pembelajaran dapat dianggap berhasil.

6. Pendekatan Struktural
Pandangan ini berpendapat bahwa bahasa adalah data yang didengar/ditulis untuk dianalisis sesuai dengan tatabahasa. Jadi belajar bahasa adalah belajar strukturstruktur (tatabahasa).

7. Pendekatan Komunikatif
Pendekatan komunikatif didasarkan pada pandangan bahwa bahasa adalah saranaberkomunikasi. Karena itu tujuan utama pengajaran bahasa adalah meningkatkanketerampilan berbahasa siswa, bukan kepada pengetahuan tentang bahasa,pengetahuan bahasa diajarkan untuk menunjang pencapaian keterampilan bahasa.

8. Pendekatan Pragmatik
Pendekatan ini mengutamakan keterampilan berbahasa dengan memperhatikan faktor-faktor penentu berbahasa, seperti: pemeran serta, tujuan, situasi, konteks juga aspek pengembangan: emosi, moral, sosial dan intelektual.

9. Pendekatan “Whole Language”
Suatu pendekatan untuk mengembangkan mengajarkan bahasa yang dilaksanakan secara menyeluruh, meliputi: mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Keterampilan tersebut memiliki hubungan yang interaktif yang tidak terpisahpisah dengan aspek kebahasaan: fonem, kata, ejaan, kalimat, wacana dan sastra. Di samping itu pendekatan ini juga mementingkan multimedia, lingkungan, dan pengalaman belajar anak.

10. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning atau CTL)
Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalamai, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan begaimana mencapainya. Mereka sadar bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Dengan begitu mereka memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti.

Pendekatan kontekstual bertujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan ke permasalahan lain dan dari satu konteks ke konteks lainnya. Dengan transfer diharapkan
(a)  Siswa belajar dari mengalami sendiri, bukan dari ‘pemberian orang lain.
(b) Peterampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sempit) sedikit demi sedikit.
(c) Penting bagi siswa tahu ‘untuk apa’ ia belajar, dan ‘bagaimana’ ia   menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu.

11. Pendeka Terpadu
        Pendekatan terpadu dalam bidang bahasa hampir sama dengan pendekatan “Whole Language”, yang pada dasarnya pembelajaran bahasa senantiasa harus terpadu, tidak terpisahkan antara keterampilan berbahasa(menyimak,berbicara,membaca,menulis) dengan komponen kebahasaan (tatabunyi, tatamakna, tatabentuk, tatakalimat) juga aspek sastra. Di samping itu untuk kelas-kelas rendah pendekatan terpadu ini menggunakan jenis pendekatan lintas bidang studi, yang artinya pembelajaran Bahasa Indonesia dapat disatukan dengan mata pelajaran lain seperti: Pendidikan Agama, Matematika, Sains, Pengetahuan Sosial, Kesenian dan Pendidikan Jasmani.

12. Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)
Pendekatan ini merupakan suatu sistem pembelajaran yang menekankan kadar keterlibatan siswa secara fisik, mental, intelektual dan emosional untuk mencapai tujuan pembelajaran. Kadar CBSA dapat dilihat dari aktivitas belajar siswa tinggi, aktivitas guru sebagai fasilitator, desain pembelajaran berfokus pada keterlibatan siswa, suasana belajar kondusif. Misal:dalam pembelajaran membaca permulaan di kelas satu, dapat dilaksanakan secara individual, kelompok atau klasikal. Kegiatan secara individual dapat membaca nyaring (bagi siswa yang sudah lancar membaca), dapat pula membaca gambar, menyusun balok-balok huruf menjadi kata, menjodohkan gambar dan kata.

13.  Pendekatan Keterampilan Proses
Keterampilan proses adalah kemampuan yang dibangun oleh sejumlah keterampilan dalam proses pembelajaran yang meliputi:
1. keterampilan intelektual
2. keterampilan sosial
3. keterampilan fisik
Keterampilan proses berfungsi sebagai alat menemukan dan mengembangkan konsep. Konsep itu akan menunjang pula keterampilan proses. Keterampilan proses dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia meliputi kegiatan: mengamati, menggolongkan, menafsirkan, menerapkan, dan mengkomunikasikan.

Asumsi lain tentang pendekatan yaitu: Ada beberapa pendekatan yang masih dominan digunakan dalam pembelajaran bahasa yaitu pendekatan komunikatif, CBSA, integrative dan komunikatif.

a.     Pendekatan komunikatif
Komunikatif adalah pembelajaran bahasa yang mengemukakan kemampuan penggunaan menggunakan bahasa dalam konteks komunikasi (keterampilam wicara dan menulis. Prinsip-prinsip pengajaran bahasa Indonesia dengan pendekatan komunikatif sebagai berikut:
1)        Pragmatic, struktur dan kosa kata tidak disajikan sebagai pokok bahasan yang
berdiri sendiri karena kosa kata, prakmatik dan struktur telah tercakup dalam pengajaran keempat keterampilan pembelajaran bahasa tersebut.
2)        Pembelajaran bahasa untuk melatih kepekaan siswa. Maksudnya siswa tidak hanya
diinformasikan secara lugas atau langsung tetapi harus mampu juga memahami informasi yang disampaikan.
3)        Pembelajaran bahasa selain untuk meningkatkan keterampilan berbahasa juga
menungkatkan untuk bernalar, meningkatkan wawasan, mengembangkan kemampuan hayati keindahan karya sastra seperti: membaca puisi, menyanyi, bercerita dan bermain drama.
4)        Pembelajaran bahasa juga diarahkan untuk membekali siswa menguasap bahasa lisan dan tulis, misalya mengungkapkan berbagai informasi yang didapat secara lisan dan tertulis . 

b.         Pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA)
Yang dimaksud dengan CBSA adalah cara belajar yang mengutamakan kadar keterlibatan siswa secara aktif baik fisik maupun mental. Yang perlu dipahami dalam pelaksanaan CBSA adalah anak dapat belajar secara kelompok ataupun individual. Anggapan CBSA identik sebagai belajar kelompok itu tidak benar.

c.         Pendekatan integrative dan tematik
Yang dimaksud dengan pendekatan integrative adalah pendekatakan pembelajaran bahasa yang disajikan secara utuh tidak terpotong-potong dan
bersumber pada satu tema.
Mencakup keempat aspek yaitu:
1.Mendengarkan
2.Berbicara
3.Membaca
4.Menulis
misalnya:“Temakesehatan”
Keempat aspek tersebut bersumber pada kesatuan tema kesehatan. Integrative
materi juga diikat oleh sebuah tema.

No comments:

Post a Comment