Tuesday, December 17, 2013

METODE MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR


METODE MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

1.1           Latar Belakang
  Ada pepatah Yunani yang mengatakan bahwa Non scolae sed vitae discimus yang apabila di artikan secara bebas bahwa sekolah itu tujuannya bukan untuk mencari skor/angka-angka tetapi sekolah itu belajar untuk kehidupan, bahkan hidup itu sendiri. Kata sekolah itu sendiri berasal dari kata scolae atau schola yang berarti waktu luang atau waktu senggang. Pada waktu senggang tersebut dhulunya para orang tua Yunani menitipkan anak-anaknya kepada orang yang di anggap pintar agar memperoleh pengetahuan dn pendidikan tentang filsafat, alam dan sejenis itu lainnya. Sekolah pada jaman itu adalah suatu aktifitas yang mengasyikan, menyenangkan karena mereka dapat memperoleh berbagai hal yang ingin mereka ketahui.
      Mencoba melihat kondisi sekarang sekolah masih dianggap suatu aktifitas yang menyenangkan oleh sebagian siswa justru di luar jam pelajaran tetapi jika di dalam jam pelajaran adalah suatu aktifitas yang membebani. Belum ada penelitian yang khusus mengkaji tentang hal tersebut, tetapi sepanjang pengamatan penulis, jika para siswa berada dikelas mereka inginnya keluar kelas atau pulang,jika ada pengumuman pulang pagi, atau libur, mereka gembira. Hal seperti ini harus kita pelajari sebagai bekal kita nanti untuk menjadi seorang guru, bagaimana cara mengatasi anak didiknya.

1.2       Permasalahan
            Pada masalah ini penulis memfokuskan permasalahan yang dihadapi pada saat suasana kelas begitu membosankan bagi para siswa dan mungkin juga guru? Apakah karena faktor guru? Siswa? Skolah? Atau muatan kurikulum? Banyak orang mengatakan bahwa beban kurikulum kita terlalu padat, tidak lagi mencermikan suara masyarakat. Peran sekolah cenderung hanya mengajar dan tidak lagi mendidik. Otak anak dijejali kurikulum yang belum tentu perlu. Menghargai NEM tinggi, nilai hafalan nama kecamatan, nama tokoh, tahun sejarah, dan hal-hal yang tak ada keperluannya buat bekal memecahkan masalah hidup di negara maju dianggap hanya menambah sempit memori otak anak. Penulis mebandingkan kurikulum Bahasa Indonesia dengan guru Bahasa Indonesia.
            Mereka mengatakan bahwa kurikulum Bahasa Indonesia aneh. Apabila pembelajaran Bahasa Indonesia itu meliputi empat keahlian membaca, menulis, mendengar, dan berbicara, mengapa dalam ujian justru tidak ada ujian mendengar dan berbicara? Lalu untuk apa proses pembelajaran speaking dn listening selama ini?.

1.3       Penjelasan Istilah
            Agar makalah ini tidak terjadi salah tafsir dan pembaca, maka perlu dikiranya penulis menjelaskanistilah yang berhubungan dengan judul pembahasan ini adalah :
            Simulasi adalah sebuah metode permainan bernomor yang disertai kartu-kartu berisi instruksi atau pertanyaan tentu dan setiap nomor. Permainan ini seperti monopoli atau ular tangga hanya lebih sederhana. Metode ini membutuhkan media bantu lain seperti dadu, identitas peserta, kartu-kartu dan amplop-amplop kecil untuk menyimpan kartu.
            Kelompok , karena harus dilakukan secara berkelompok. Untuk kelas kiasikal idealnya beranggotakan 5-6 siswa. Pembagian kelas kedalam kelompok-kelompok kecil bisa menjadi solusi masalah-masalah pembelajaran Bahasa Indonesi. Salah satu keuntungan yang jelas adalah dapat mendorong anggota kelompok untuk secara aktif melakukan apa yang telah menjadi kesepakatan kelompok tersebut.


1.4       Tujuan Pembuatan Makalah
      Secara umum makalah ini dibuat bertujuan sebagai berikut :
1.      Untuk memberikan suasana baru dan memunculkan wajah baru kepada para siswa bahwa belajar Bahasa Indonesia tdak harus selalu memulai metode konvensional, membuka buku paket, mengerjakan LKS, sehingga para siswa tidak merasa jenuh atau bosan dikelas.
2.      Untuk memberikan suatu gambaran bagi para rekan sejawat, membuka wawasan bahwa mereka bisa menggunakan metode simulasi tematis selain metode yang ada untuk meningkatkan kemampuan Bahasa Indonesia siswa.
3.      Sebagai alat bantu untuk memperlancar proses tanya jawab tentang tema tertentu dengan pendekatan teman sebagai tutor sebaya dengan demikian diharapkan terjadi pemahaman yang lebih baik atas tema yang dibawakan di kelas.
4.      Supaya siswa berlatih untuk memiliki rasa percaya diri dengan mengurangi peran dominan guru, sehingga mereka dapat mengungkapkan kemampuannya, berlatih speaking secara bebas dan leluasa.
5.      Untuk melihat apakah ada perubahan kemampuan para siswa yang signifikan setelah dilakukan metode simulasi tematis baik itu dalam pemahaman, speaking maupun writing.
     
     

BAB II
METODE MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR

2.1         Konsep Dasar Pembelajaran
Pelajaran bahasa Indonesia saat ini sering dicap sebagai pelajaran yang membosankan, tidak punya greget, dan nyaris tidak ada tantangan. Karena itu, mata pelajaran ini sering dianggap sebelah mata tidak hanya oleh para siswa, akan tetapi oleh masyarakat umum. Dalam hal ini kriteria mereka tidak bisa disalahkan karena mereka adalah kalangan awam yang belum mengetahui jantung hati atau isi dan pelajaran bahasa yang sesungguhnya.
Selama ini yang tampak ke permukaan adalah materi dan metode pengajaran bahasa Indonesia yang terus berulang pada setiap jenjang dengan urgensi materi yang kurang aplikatif dan kebutuhan siswa dimasyarakat. Pada akhirnya pelajaran bahasa Indonesia tidak lebih dan sebuah ilmu bahasa atau sastra yang dapat dikuasai dengan cara menghapal. Pengajar bahasa Indonesia dipandang sebagai belajar tentang bahasa, yang bersifat gamatika sentris. Hal ini tampak pada pelajaran berbicara yang bertumpu pada penekanan soal benar dan salah dalam tata bahasa seperti penulisan kata dan pemakaian tanda baca.
Materi bahasa Indonesia di sekolah sesungguhnya merupakan sebuah pelajaran keterampilan sebagaimana pelajaran olahraga, kesenian, ataupun KTK. Setelah mengikuti pelajran bahasa, para siswa diharapkan terampil menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Aplikasinya, mereka dapat melakukan wawancara, berpidato, menulis surat, membuat laporan dan aneka bahasa lainnya. Akan tetapi, yang terjadi selama ini tidaklah demikian. Dalam latihan dan ujian-ujiannya, mereka justru ditanya jenis-jenis kalimat, struktur kalimat, jenis-jenis kata, Frase dan pengetahuan bahasa lainnya. Padahal  yang pertama –tama perlu dikuasai seseorang ketika berbahasa adalah kemampuan mereka dalam mengeluarkan dan mengolah ide secara tepat serta pemilihan kata yang relevan dengan konteks pemakaiannya.      
    
2.2         Prinsip Dasar Pembelajaran
Para penyusun kurikulum memahami masalah tersebut. Secara konsepsutual kurikulum berbasis kopentensi (KBK) yang sudah berlaku sekarang ini, lebih menjanjikan kurikulum terdahulu. Adapun prinsip-prinsip pembelajaran yang kegiatan belajar mengajar (KBM) berdasarkan kebijakan kurikulum berbasis kopetensi, 2001 yang dikemukakan oleh Fajar (2002) adalah sebagai berikut:
1.    Berpusat pada siswa
KBM perlu menempatkan siswa sebagai subjek belajar dan mendorong siswa untuk mengembangkan bakat dan potensinya secara optimal.

2.    Balajar dengan melakukan KBM
Perlu memberikan pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari dan dunia kerja yang terkait dengan penerapan konsep, kaidah, dan prinsip-prinsip disiplin ilmu yang dipelajari.

3.    Mengembangkan Kemampuan Sosial
KBM perlu mendorong siswa untuk mengkomunikasikan gagasan hasil kreasi temuannya kepada siswa lain, guru atau pihak-pihak lain. Dalam hal ini, memungkinkan siswa bersosialisasi dengan menghargai perbedaan ( pendapat,sikap,kemampuan dan prestasi ) dan berlatih untuk bekerjasama, artinya KBM perlu mendorong siswa untuk mengembangkan empatinya, sehingga dapat menumbuhkan saling pengertian dengan menyelaraskan pengetahuan dan tindakannya.

4.    Mengembangkan keingintahuan, imajinasi dan fitrah bertuhan.
Siswa dilahirka dengan memiliki rasa ingin tahu, imajinasi dan fitrah bertuhan, dua hal yang pertama merupakan modal dasar untuk bersikap peka, kritis, mandiri, dan kreatif. Dan yang kedua bertaka kepada Tuhan. Kedua hal tersebut harus diperhatikan dalam KBM  agar bermakna bagi siswa.

5.    Mengembangkan keterampilan pemecahan masalah
KBM hendaknya dipilih dan dirancang agar mampu mendorong dan melatih siswa untuk mengidentifikasikan masalah dan memecahkannnya dengan menggunakan kemampuan kognitif. Selain itu, KBM hendaknya merancang siswa untuk secara aktif mencari jawaban atas permasalahan dengan prosedur ilmiah.

6.    Mengembangkan kreatifitas siswa
Siswa memiliki potensi untuk berbeda. Hal ini terdaat dalam pola pikir, daya imajinasi, fantasi (pengabdian), dan hasi karyanya. Oleh karena itu, KBM perlu dipilih dan dirancang agar memberikan kesempatan dan kebebasan berkreasi secara berkesinambungan untuk mengembangkan dan mengoptimalkan kreatifitas siswa.

7.    Mengembangkan kemampuan enggunakan ilmu dan teknologi
Siswa perlu mengenal penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi sejak dini, dengan demikian, KBM perlu memberikan peluang agar siswa memperoleh informasi dan multimedia setidaknya dalam penyajian dan penggunaan media pembelajaran.

8.     Menumbuhan kesadaran sebagai warga negara yang baik
KBM perlu memberikan wawasan nilai-nilai moral dan sosial yang dapat membekali siswa agar menjadi warga negara yang produktif dan bertanggung jawab. Selain itu, KBM hendaknya mampu menggugah kesadaran siswa akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara.

9.    Belajar sepanjang hayat
KBM perlu mendorong siswa untuk dapat meihat dirinya secara positif, mengenali dirinya sendiri baik kelebihan maupun kekurangannya untuk kemudian dapat mensyukuri apa yang telah dianugrahkan Tuhan kepadanya. Dengan demikian, KBM perlu membekali siswa dengan keterampilan belajar yang meliputi rasa percaya diri, keingin tahuan dan kemampuan memahami orang lain, kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama supaya mendorong dirinya untuk senantiasa belajar, baik secara formal maupun informal di luar kelas.

10.     Perpaduan kopetensi, kerjasama dan solidaritas
KBM perlu memberikan kesempatan pada siswa untung mengembangkan semangat berpotensi secara sehat, bekerja sama, dan solidaritas yang menyertakan tugas yang memungkinkan siswa bekerja secara mandiri.

2.3         Pendekatan Karakteristik CTL
Pendekatan CTL ( Contextual Teaching Learning ) untuk sementara ini dipandang sebagai solusi dalam mengatasi rendahnya kemampuan menulis dan keterampilan berbahasa para peserta didik. Pendekatan ini relevan dengan pelajaran bahasa, yakni dengan karakteristiknya sebagai berikut :
1.    Siswa secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Misalnya siswa tidak saja mendengarkan penjelasan guru, akan tetapi merekapun dituntut untuk menyampaikan kembali penjelasan itu kepada temannya, siswa tidak sekedar bisa membaca cerita, akan tetapi ia pun harus bisa menyampaikan cerita itu dan membantunya sendiri.
2.    Siswa belajar dan berteman melalui kerja kelompok, diskusi dan dapat saling mengoreksi. Hal ini sesuai dengan prinsip belajar bahasa yang bersifat komunikatif.  Kemampuan siswa dalam komunikasi sosial. Kegiatan mereka dalam berbicara dan menyimak, membaca dan menulis, akan tercipta apabila mereka terlibat langsung dalam kerja sama dengan temannya ataupun lingkungan sekitarnya.
3.    Pembelajaran dikaitkan dengan kehidupan nyata. Untuk memperoleh pengalaman yang sifatnya ril, para siswa tidak selalu dikenalkan pada teori-teori bahasa. Akan tetapi, mereka lebih dulu diperkenalkan dan terlibat langsung dalam kondisi berbahasa dalam praktik yang sesungguhnya, misalnya. Menonton film kartun di televisi VCD memperlihatkan cara berbincang seseorang penjual bakso bercakap-cakap dengan sopir, atau mementaskan pertunjukan drama.
4.    Pembelajaran terjadi diberbagai tempat dan konteks berbahasa, pembelajaran tidak harus selalu dilaksanakan di kelas, akan tetapi bisa pula terjadi di taman, di pasar, atau di stasiun. Misalnya, untuk menulis karangan deskripsi, akan lebih baik siswa dibawa ke alam bebas dengan maksud agar pengalaman lebih lengkap dan lebih nyata.
5.    Para siswa menggunakan kemampuan kritisnya dan terlibat penuh dalam proses pembelajaran. Mereka mengetahui sesuatu yang benar dan salah atas dasar analisanya dan bukan menerima begitu saja fatwa atau teori dari guru. Misalnya, mereka mengetahui karnagannya itu baik atau buruk bukan dari penghakiman guru. Mereka mengetahuinya atas dasar kesadaran sendiri setelah melakukan nalar dan daya kritisnya.
6.    Hasil belajar dengan berbagai cara atau proses kerja, hasil karya, penampilan, lisan, atau tulisan. Dengan cara demikian, kemampuan siswa yang sesungguhnya dapat diketahui secara lebih menyeluruh, yakni tidak hanya aspek intelektua, melainkan juga asek spiritual.
7.    Penghargaan lebih diutamakan daripada hukuman. Para siswa adalah manusia yang sedang belajar. Kesalahan merupakan sesuatu yang biasa dan lazin dilakukan bagi yang sedang belajar. Yang luar biasa adalah ketika mereka melakukan sebuah prestasi dan pada itulah mereka harus mendapatkan penghargaan.
8.    Motivasi belajar tumbuh dari diri sendiri dan bukan motivasi dari luar. Mereka mau belajar bahasa karena menyadari bahasa itu penting. Karena itu kita sebagai pendidik harus selalu menanamkan setiap kali mereka akan memulai belajar.
CTL merupakan salah satu pendekatan yang dapat membentuk mewujudkan kopentensi komunikatif berbahasa para siswa. Dengan keunggulan-keunggulannya, CTL merupakan pendekatan yang sesuai untuk berbagai jenjang pendidikan. Alasan inilah yang mendorong untuk melakukan berbagai pengalaman berkaitan dengan aplikasi pendekatan tersebut, khususnya dalam pelajaran bahasa ataupun menulis di sekolah.


KESIMPULAN

Muatan kurikulum Bahasa Indonesia yang terlalu padat, membahas banya tema yang belum tentu dianggap para siswa bermanfaat dalam kehidupan mereka, dengan tidak dibarengi metode pembelajaran yang menyenangkan, membuat suasana pembelajaran atau suasana kelas dalam pandangan para siswa membosankan. Hal tersebut mengakibatkan tidak adanya apresiasi siswa terhadap pelajaran Bahasa Indonesia yang pada akhirnya kemampuan berbahasa Indonesia tidak sebanding dengan jumlah anggaran yang dikeluarkan negara dan kerja keras para guru Bahasa Indonesia maupun siswa itu sendiri. Oleh karena itu perlu dicari solusinya. Salah satu solusinya adalah melalui penerapan metode pembelajaran.
Metode ini mampu membuat suasana kelas hidup dan menyenangkan, juga mengindikasikan adanya peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia, siswa yang cenderung lebih baik dalam bentuk pemahaman terhadap tema tertentu maupun dalam kemampuan  membaca dan menulis. Meskipun begitu ada pula kelemahan metode ini. Pertama, membuat kelas menjadi ramai sehingga kadang-kadang sulit membedakan apakah keramaian itu memberikan suatu proses pembelajaran atau tidak. Kedua, tidak bisa dipakai berulang-ulang secara terus menerus. Artinya, mungkin dalam satu tahun pelajaran hanya dipakai 4-5 kali penggunaan dalam kelas yang sama. Ketiga, memerlukan pengawasan yang lebih daripada proses pembelajaran biasa karena daam situasi yang demikian ramai, para siswa sering lupa untuk terus menggunakan Bahasa Indonesia dalam simulasi tersebut.
Adapun keuntungannya, metode ini fleksibel, dapat digunakan untuk semua tema dan dapat dimulai dan tingkat kemampuan siswa yang sudah memiliki kemampuan komunikasi dasar. Menurut Endang Adi, metode pembelajaran Bahasa Indonesia melalui simuasi ini sifatnya non formal sehingga penentuan materi pembelajaran bisa bersifat longgar, tanpa harus mengacu pada kurikulum yang berlaku. (Adi,2002:37). Penulis mencoba menyatukan dengan kurikulum dan menyesuaikan dengan kemampuan siswa. Kedua, mendorong siswa untuk secara otomatis berbicara Bahasa Indonesia karena menuntut kelompok untuk membangun suasana pembelajaran Bahasa Indonesia.

  Saran- saran
1.    Kurikulm Bahasa Indonesia perlu dikaji ulang dengan mengedepankan pendekatan  kepada siswa dilihat dari sudut psikologis usia. Klien guru adalah siswa. Sekolah yang dianggap mampu diberi kebebasan untuk menentukan standar kurikulum sendiri sehingga para guru di lapanglah yang lebih tahu permasalahan atau kondisi para siswa yang dihadapinya.
2.    Meskipung seiring gaji yang rendah sebagai alasan utama, guru dituntut untuk selalu mengingat sumpah jabatan. Jika mereka menjadi guru sudah menjadi pilihan hidup, maka mau tidak mau guru harus profesional yang salah satu indikasinya selalu mengembangkan metode. Yang harus dihadapi adalah para siswa, maha karya Tuhan yang luar biasa sekaligus merupakan ‘future decision makers’  atau dalam bahasa Kahlil Gibran sebagai anak panah yang melesat ke masa depan. Oleh karena itu guru hukumnya wajib mempersiapkan mereka dan memberikan yang terbaik pada mereka.
3.    Para siswa sendiri harus membantu guru untuk kreatif.
4.    Sekolah harus membantu guru dan siswa untuk kreatif misalnya dengan menyediakan sarana prasarana yang mendukung untuk proses pembelajaran khususnya pembelajaran Bahasa Indonesia.
5.    Pihak penerbit selayaknya tidak saja berorientasi pada keuntungan akan tetapi terus mengembangkan dan menerbitkan buku-buku pegangan yang bermutu yang memang berkorelasi positif dengan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.


DAFTAR PUSTAKA

Somantri, Nurdin. 2002 Visi Keberagaman Kita Sekarang dan Masa Depan.
Purwanto, M. Ngalim. 2000 Prinsip-Prinsip dan Teknik evaluasi Pengajaran. Bandung, PT Remaja Rosdakarya.
Tarigan, Henry Guntur. 1985 Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung, Angkasa.

No comments:

Post a Comment