METODE MENINGKATKAN
KEMAMPUAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR
1.1
Latar Belakang
Ada pepatah Yunani yang mengatakan bahwa Non
scolae sed vitae discimus yang apabila di artikan secara bebas bahwa sekolah
itu tujuannya bukan untuk mencari skor/angka-angka tetapi sekolah itu belajar
untuk kehidupan, bahkan hidup itu sendiri. Kata sekolah itu sendiri berasal
dari kata scolae atau schola yang berarti waktu luang atau waktu senggang. Pada
waktu senggang tersebut dhulunya para orang tua Yunani menitipkan anak-anaknya
kepada orang yang di anggap pintar agar memperoleh pengetahuan dn pendidikan
tentang filsafat, alam dan sejenis itu lainnya. Sekolah pada jaman itu adalah
suatu aktifitas yang mengasyikan, menyenangkan karena mereka dapat memperoleh
berbagai hal yang ingin mereka ketahui.
Mencoba
melihat kondisi sekarang sekolah masih dianggap suatu aktifitas yang
menyenangkan oleh sebagian siswa justru di luar jam pelajaran tetapi jika di
dalam jam pelajaran adalah suatu aktifitas yang membebani. Belum ada penelitian
yang khusus mengkaji tentang hal tersebut, tetapi sepanjang pengamatan penulis,
jika para siswa berada dikelas mereka inginnya keluar kelas atau pulang,jika
ada pengumuman pulang pagi, atau libur, mereka gembira. Hal seperti ini harus
kita pelajari sebagai bekal kita nanti untuk menjadi seorang guru, bagaimana
cara mengatasi anak didiknya.
1.2 Permasalahan
Pada masalah ini penulis memfokuskan
permasalahan yang dihadapi pada saat suasana kelas begitu membosankan bagi para
siswa dan mungkin juga guru? Apakah karena faktor guru? Siswa? Skolah? Atau
muatan kurikulum? Banyak orang mengatakan bahwa beban kurikulum kita terlalu
padat, tidak lagi mencermikan suara masyarakat. Peran sekolah cenderung hanya
mengajar dan tidak lagi mendidik. Otak anak dijejali kurikulum yang belum tentu
perlu. Menghargai NEM tinggi, nilai hafalan nama kecamatan, nama tokoh, tahun
sejarah, dan hal-hal yang tak ada keperluannya buat bekal memecahkan masalah
hidup di negara maju dianggap hanya menambah sempit memori otak anak. Penulis
mebandingkan kurikulum Bahasa Indonesia dengan guru Bahasa Indonesia.
Mereka mengatakan bahwa kurikulum
Bahasa Indonesia aneh. Apabila pembelajaran Bahasa Indonesia itu meliputi empat
keahlian membaca, menulis, mendengar, dan berbicara, mengapa dalam ujian justru
tidak ada ujian mendengar dan berbicara? Lalu untuk apa proses pembelajaran
speaking dn listening selama ini?.
1.3 Penjelasan
Istilah
Agar makalah ini tidak terjadi salah
tafsir dan pembaca, maka perlu dikiranya penulis menjelaskanistilah yang
berhubungan dengan judul pembahasan ini adalah :
Simulasi adalah sebuah metode
permainan bernomor yang disertai kartu-kartu berisi instruksi atau pertanyaan
tentu dan setiap nomor. Permainan ini seperti monopoli atau ular tangga hanya
lebih sederhana. Metode ini membutuhkan media bantu lain seperti dadu,
identitas peserta, kartu-kartu dan amplop-amplop kecil untuk menyimpan kartu.
Kelompok , karena harus dilakukan
secara berkelompok. Untuk kelas kiasikal idealnya beranggotakan 5-6 siswa.
Pembagian kelas kedalam kelompok-kelompok kecil bisa menjadi solusi
masalah-masalah pembelajaran Bahasa Indonesi. Salah satu keuntungan yang jelas
adalah dapat mendorong anggota kelompok untuk secara aktif melakukan apa yang
telah menjadi kesepakatan kelompok tersebut.
1.4 Tujuan Pembuatan Makalah
Secara umum makalah ini dibuat bertujuan sebagai berikut :
1. Untuk
memberikan suasana baru dan memunculkan wajah baru kepada para siswa bahwa
belajar Bahasa Indonesia tdak harus selalu memulai metode konvensional, membuka
buku paket, mengerjakan LKS, sehingga para siswa tidak merasa jenuh atau bosan
dikelas.
2. Untuk
memberikan suatu gambaran bagi para rekan sejawat, membuka wawasan bahwa mereka
bisa menggunakan metode simulasi tematis selain metode yang ada untuk
meningkatkan kemampuan Bahasa Indonesia siswa.
3. Sebagai
alat bantu untuk memperlancar proses tanya jawab tentang tema tertentu dengan
pendekatan teman sebagai tutor sebaya dengan demikian diharapkan terjadi
pemahaman yang lebih baik atas tema yang dibawakan di kelas.
4. Supaya
siswa berlatih untuk memiliki rasa percaya diri dengan mengurangi peran dominan
guru, sehingga mereka dapat mengungkapkan kemampuannya, berlatih speaking secara bebas dan leluasa.
5. Untuk
melihat apakah ada perubahan kemampuan para siswa yang signifikan setelah
dilakukan metode simulasi tematis baik itu dalam pemahaman, speaking maupun writing.
BAB II
METODE MENINGKATKAN
KEMAMPUAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR
2.1 Konsep Dasar Pembelajaran
Pelajaran
bahasa Indonesia saat ini sering dicap sebagai pelajaran yang membosankan, tidak
punya greget, dan nyaris tidak ada tantangan. Karena itu, mata pelajaran ini
sering dianggap sebelah mata tidak hanya oleh para siswa, akan tetapi oleh
masyarakat umum. Dalam hal ini kriteria mereka tidak bisa disalahkan karena
mereka adalah kalangan awam yang belum mengetahui jantung hati atau isi dan
pelajaran bahasa yang sesungguhnya.
Selama
ini yang tampak ke permukaan adalah materi dan metode pengajaran bahasa
Indonesia yang terus berulang pada setiap jenjang dengan urgensi materi yang
kurang aplikatif dan kebutuhan siswa dimasyarakat. Pada akhirnya pelajaran
bahasa Indonesia tidak lebih dan sebuah ilmu bahasa atau sastra yang dapat
dikuasai dengan cara menghapal. Pengajar bahasa Indonesia dipandang sebagai
belajar tentang bahasa, yang bersifat gamatika sentris. Hal ini tampak pada
pelajaran berbicara yang bertumpu pada penekanan soal benar dan salah dalam
tata bahasa seperti penulisan kata dan pemakaian tanda baca.
Materi
bahasa Indonesia di sekolah sesungguhnya merupakan sebuah pelajaran
keterampilan sebagaimana pelajaran olahraga, kesenian, ataupun KTK. Setelah
mengikuti pelajran bahasa, para siswa diharapkan terampil menyimak, berbicara,
membaca, dan menulis. Aplikasinya, mereka dapat melakukan wawancara, berpidato,
menulis surat, membuat laporan dan aneka bahasa lainnya. Akan tetapi, yang
terjadi selama ini tidaklah demikian. Dalam latihan dan ujian-ujiannya, mereka
justru ditanya jenis-jenis kalimat, struktur kalimat, jenis-jenis kata, Frase
dan pengetahuan bahasa lainnya. Padahal
yang pertama –tama perlu dikuasai seseorang ketika berbahasa adalah
kemampuan mereka dalam mengeluarkan dan mengolah ide secara tepat serta pemilihan
kata yang relevan dengan konteks pemakaiannya.
2.2
Prinsip
Dasar Pembelajaran
Para
penyusun kurikulum memahami masalah tersebut. Secara konsepsutual kurikulum
berbasis kopentensi (KBK) yang sudah berlaku sekarang ini, lebih menjanjikan
kurikulum terdahulu. Adapun prinsip-prinsip pembelajaran yang kegiatan belajar
mengajar (KBM) berdasarkan kebijakan kurikulum berbasis kopetensi, 2001 yang
dikemukakan oleh Fajar (2002) adalah sebagai berikut:
1. Berpusat
pada siswa
KBM perlu menempatkan
siswa sebagai subjek belajar dan mendorong siswa untuk mengembangkan bakat dan
potensinya secara optimal.
2. Balajar
dengan melakukan KBM
Perlu memberikan
pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari dan dunia kerja yang terkait
dengan penerapan konsep, kaidah, dan prinsip-prinsip disiplin ilmu yang
dipelajari.
3. Mengembangkan
Kemampuan Sosial
KBM perlu mendorong
siswa untuk mengkomunikasikan gagasan hasil kreasi temuannya kepada siswa lain,
guru atau pihak-pihak lain. Dalam hal ini, memungkinkan siswa bersosialisasi
dengan menghargai perbedaan ( pendapat,sikap,kemampuan dan prestasi ) dan
berlatih untuk bekerjasama, artinya KBM perlu mendorong siswa untuk
mengembangkan empatinya, sehingga dapat menumbuhkan saling pengertian dengan
menyelaraskan pengetahuan dan tindakannya.
4. Mengembangkan
keingintahuan, imajinasi dan fitrah bertuhan.
Siswa dilahirka dengan
memiliki rasa ingin tahu, imajinasi dan fitrah bertuhan, dua hal yang pertama
merupakan modal dasar untuk bersikap peka, kritis, mandiri, dan kreatif. Dan
yang kedua bertaka kepada Tuhan. Kedua hal tersebut harus diperhatikan dalam
KBM agar bermakna bagi siswa.
5. Mengembangkan
keterampilan pemecahan masalah
KBM hendaknya dipilih
dan dirancang agar mampu mendorong dan melatih siswa untuk mengidentifikasikan
masalah dan memecahkannnya dengan menggunakan kemampuan kognitif. Selain itu,
KBM hendaknya merancang siswa untuk secara aktif mencari jawaban atas
permasalahan dengan prosedur ilmiah.
6. Mengembangkan
kreatifitas siswa
Siswa memiliki potensi
untuk berbeda. Hal ini terdaat dalam pola pikir, daya imajinasi, fantasi (pengabdian),
dan hasi karyanya. Oleh karena itu, KBM perlu dipilih dan dirancang agar
memberikan kesempatan dan kebebasan berkreasi secara berkesinambungan untuk
mengembangkan dan mengoptimalkan kreatifitas siswa.
7. Mengembangkan
kemampuan enggunakan ilmu dan teknologi
Siswa perlu mengenal
penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi sejak dini, dengan demikian, KBM
perlu memberikan peluang agar siswa memperoleh informasi dan multimedia
setidaknya dalam penyajian dan penggunaan media pembelajaran.
8. Menumbuhan kesadaran sebagai warga negara yang
baik
KBM perlu memberikan
wawasan nilai-nilai moral dan sosial yang dapat membekali siswa agar menjadi
warga negara yang produktif dan bertanggung jawab. Selain itu, KBM hendaknya
mampu menggugah kesadaran siswa akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara.
9. Belajar
sepanjang hayat
KBM perlu mendorong
siswa untuk dapat meihat dirinya secara positif, mengenali dirinya sendiri baik
kelebihan maupun kekurangannya untuk kemudian dapat mensyukuri apa yang telah
dianugrahkan Tuhan kepadanya. Dengan demikian, KBM perlu membekali siswa dengan
keterampilan belajar yang meliputi rasa percaya diri, keingin tahuan dan
kemampuan memahami orang lain, kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama supaya
mendorong dirinya untuk senantiasa belajar, baik secara formal maupun informal
di luar kelas.
10. Perpaduan
kopetensi, kerjasama dan solidaritas
KBM perlu memberikan
kesempatan pada siswa untung mengembangkan semangat berpotensi secara sehat,
bekerja sama, dan solidaritas yang menyertakan tugas yang memungkinkan siswa
bekerja secara mandiri.
2.3
Pendekatan
Karakteristik CTL
Pendekatan
CTL ( Contextual Teaching Learning ) untuk sementara ini dipandang sebagai
solusi dalam mengatasi rendahnya kemampuan menulis dan keterampilan berbahasa
para peserta didik. Pendekatan ini relevan dengan pelajaran bahasa, yakni
dengan karakteristiknya sebagai berikut :
1. Siswa
secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Misalnya siswa tidak saja
mendengarkan penjelasan guru, akan tetapi merekapun dituntut untuk menyampaikan
kembali penjelasan itu kepada temannya, siswa tidak sekedar bisa membaca
cerita, akan tetapi ia pun harus bisa menyampaikan cerita itu dan membantunya
sendiri.
2. Siswa
belajar dan berteman melalui kerja kelompok, diskusi dan dapat saling
mengoreksi. Hal ini sesuai dengan prinsip belajar bahasa yang bersifat
komunikatif. Kemampuan siswa dalam
komunikasi sosial. Kegiatan mereka dalam berbicara dan menyimak, membaca dan
menulis, akan tercipta apabila mereka terlibat langsung dalam kerja sama dengan
temannya ataupun lingkungan sekitarnya.
3. Pembelajaran
dikaitkan dengan kehidupan nyata. Untuk memperoleh pengalaman yang sifatnya
ril, para siswa tidak selalu dikenalkan pada teori-teori bahasa. Akan tetapi,
mereka lebih dulu diperkenalkan dan terlibat langsung dalam kondisi berbahasa
dalam praktik yang sesungguhnya, misalnya. Menonton film kartun di televisi VCD
memperlihatkan cara berbincang seseorang penjual bakso bercakap-cakap dengan
sopir, atau mementaskan pertunjukan drama.
4. Pembelajaran
terjadi diberbagai tempat dan konteks berbahasa, pembelajaran tidak harus
selalu dilaksanakan di kelas, akan tetapi bisa pula terjadi di taman, di pasar,
atau di stasiun. Misalnya, untuk menulis karangan deskripsi, akan lebih baik
siswa dibawa ke alam bebas dengan maksud agar pengalaman lebih lengkap dan
lebih nyata.
5. Para
siswa menggunakan kemampuan kritisnya dan terlibat penuh dalam proses
pembelajaran. Mereka mengetahui sesuatu yang benar dan salah atas dasar
analisanya dan bukan menerima begitu saja fatwa atau teori dari guru. Misalnya,
mereka mengetahui karnagannya itu baik atau buruk bukan dari penghakiman guru.
Mereka mengetahuinya atas dasar kesadaran sendiri setelah melakukan nalar dan
daya kritisnya.
6. Hasil
belajar dengan berbagai cara atau proses kerja, hasil karya, penampilan, lisan,
atau tulisan. Dengan cara demikian, kemampuan siswa yang sesungguhnya dapat
diketahui secara lebih menyeluruh, yakni tidak hanya aspek intelektua,
melainkan juga asek spiritual.
7. Penghargaan
lebih diutamakan daripada hukuman. Para siswa adalah manusia yang sedang
belajar. Kesalahan merupakan sesuatu yang biasa dan lazin dilakukan bagi yang
sedang belajar. Yang luar biasa adalah ketika mereka melakukan sebuah prestasi
dan pada itulah mereka harus mendapatkan penghargaan.
8. Motivasi
belajar tumbuh dari diri sendiri dan bukan motivasi dari luar. Mereka mau
belajar bahasa karena menyadari bahasa itu penting. Karena itu kita sebagai
pendidik harus selalu menanamkan setiap kali mereka akan memulai belajar.
CTL
merupakan salah satu pendekatan yang dapat membentuk mewujudkan kopentensi
komunikatif berbahasa para siswa. Dengan keunggulan-keunggulannya, CTL
merupakan pendekatan yang sesuai untuk berbagai jenjang pendidikan. Alasan
inilah yang mendorong untuk melakukan berbagai pengalaman berkaitan dengan
aplikasi pendekatan tersebut, khususnya dalam pelajaran bahasa ataupun menulis
di sekolah.
KESIMPULAN
Muatan
kurikulum Bahasa Indonesia yang terlalu padat, membahas banya tema yang belum
tentu dianggap para siswa bermanfaat dalam kehidupan mereka, dengan tidak
dibarengi metode pembelajaran yang menyenangkan, membuat suasana pembelajaran
atau suasana kelas dalam pandangan para siswa membosankan. Hal tersebut
mengakibatkan tidak adanya apresiasi siswa terhadap pelajaran Bahasa Indonesia
yang pada akhirnya kemampuan berbahasa Indonesia tidak sebanding dengan jumlah
anggaran yang dikeluarkan negara dan kerja keras para guru Bahasa Indonesia
maupun siswa itu sendiri. Oleh karena itu perlu dicari solusinya. Salah satu solusinya
adalah melalui penerapan metode pembelajaran.
Metode
ini mampu membuat suasana kelas hidup dan menyenangkan, juga mengindikasikan
adanya peningkatan kemampuan berbahasa Indonesia, siswa yang cenderung lebih
baik dalam bentuk pemahaman terhadap tema tertentu maupun dalam kemampuan membaca dan menulis. Meskipun begitu ada pula
kelemahan metode ini. Pertama, membuat kelas menjadi ramai sehingga
kadang-kadang sulit membedakan apakah keramaian itu memberikan suatu proses
pembelajaran atau tidak. Kedua, tidak bisa dipakai berulang-ulang secara terus
menerus. Artinya, mungkin dalam satu tahun pelajaran hanya dipakai 4-5 kali
penggunaan dalam kelas yang sama. Ketiga, memerlukan pengawasan yang lebih
daripada proses pembelajaran biasa karena daam situasi yang demikian ramai,
para siswa sering lupa untuk terus menggunakan Bahasa Indonesia dalam simulasi
tersebut.
Adapun
keuntungannya, metode ini fleksibel, dapat digunakan untuk semua tema dan dapat
dimulai dan tingkat kemampuan siswa yang sudah memiliki kemampuan komunikasi
dasar. Menurut Endang Adi, metode pembelajaran Bahasa Indonesia melalui simuasi
ini sifatnya non formal sehingga penentuan materi pembelajaran bisa bersifat
longgar, tanpa harus mengacu pada kurikulum yang berlaku. (Adi,2002:37).
Penulis mencoba menyatukan dengan kurikulum dan menyesuaikan dengan kemampuan
siswa. Kedua, mendorong siswa untuk secara otomatis berbicara Bahasa Indonesia
karena menuntut kelompok untuk membangun suasana pembelajaran Bahasa Indonesia.
Saran- saran
1. Kurikulm
Bahasa Indonesia perlu dikaji ulang dengan mengedepankan pendekatan kepada siswa dilihat dari sudut psikologis
usia. Klien guru adalah siswa. Sekolah yang dianggap mampu diberi kebebasan
untuk menentukan standar kurikulum sendiri sehingga para guru di lapanglah yang
lebih tahu permasalahan atau kondisi para siswa yang dihadapinya.
2. Meskipung
seiring gaji yang rendah sebagai alasan utama, guru dituntut untuk selalu
mengingat sumpah jabatan. Jika mereka menjadi guru sudah menjadi pilihan hidup,
maka mau tidak mau guru harus profesional yang salah satu indikasinya selalu
mengembangkan metode. Yang harus dihadapi adalah para siswa, maha karya Tuhan
yang luar biasa sekaligus merupakan
‘future decision makers’ atau dalam
bahasa Kahlil Gibran sebagai anak panah yang melesat ke masa depan. Oleh karena
itu guru hukumnya wajib mempersiapkan mereka dan memberikan yang terbaik pada
mereka.
3. Para
siswa sendiri harus membantu guru untuk kreatif.
4. Sekolah
harus membantu guru dan siswa untuk kreatif misalnya dengan menyediakan sarana
prasarana yang mendukung untuk proses pembelajaran khususnya pembelajaran
Bahasa Indonesia.
5. Pihak
penerbit selayaknya tidak saja berorientasi pada keuntungan akan tetapi terus
mengembangkan dan menerbitkan buku-buku pegangan yang bermutu yang memang
berkorelasi positif dengan kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar.
DAFTAR
PUSTAKA
Somantri, Nurdin. 2002 Visi Keberagaman Kita Sekarang dan Masa
Depan.
Purwanto, M. Ngalim.
2000 Prinsip-Prinsip dan Teknik evaluasi
Pengajaran. Bandung, PT Remaja Rosdakarya.
Tarigan, Henry Guntur.
1985 Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan
Berbahasa. Bandung, Angkasa.
No comments:
Post a Comment