PENDEKATAN
LEARNING EXPERIENCE APPROACH
Pengalaman adalah guru terbaik bagi seseorang. Dengan kata lain
seseorang dapat belajar dari atau melalui pengalaman. Untuk memahami makna
experiental learning, yang berarti belajar melalui penghayatan langsung atas
pengalaman yang dialami. Belajar melalu
experience learning mengacu pada proses belajar yang melibatkan siswa secara
langsung dalam masalah atau materi yang sedang dipelajari.
Pada hakikatnya experience learning mengandung 4 syarat
yaitu :
1.
Siswa bertanggung jawab terhadap
jenis belajar yang ingin dicapainya.
2.
Lebih dari hanya sekedar
melibatkan proses kognitif,
3.
Dapat mencakup tujuan belajar pada
aspek keterampilan dan efektif.
4.
Siswa harus mengalami proses
belajar yang aktif secara fisik dan psikologis.
Ciri – ciri experience learning :
1.
Siswa terlihat aktif dalam
melakukan pembelajaran.
2.
Adanya relevansi antara topik pada
experience learning.
3.
Tanggung jawab siswa harus
ditingkatkan.
4.
Penggunaan experience learning
bersifat luwes.
Karakteristik belajar melalui pengalaman :
1.
Belajar lebih dipersiapkan sebagai
proses, bukan hasil.
2.
Belajar adalah suatu proses yang
berkesinambungan yang berpijak pada pengalaman.
3.
Proses belajar menuntut
penyelesaian pertentangan antara modus-modus dasar untuk beradaptasi dengan
lingkungan.
4.
Belajar merupakan proses adaptasi
terhadap dunia luar secara utuh.
5.
Belajar merupakan transaksi antara
individu dengan lingkungan.
PENDEKATAN LEA ( Language
Experience Approach)
Pendekatan Pengalaman Berbahasa
merupakan alih kata dari istilah Language Experience Approach (LEA).
Seperti dikutip oleh Harjasujana(1997:196-197) bahwa Huff mendefinisikan LEA
berdasarkan makna yang terkandung dalam unsur-unsur kata pembentuknya, terutama
kata experience dan language. Menurut Huff, experience merupakan
pengalaman seseorang yang diperoleh dari aktivitas tertentu. Sementara itu, language
merupakan cerminan dari empat aspek keterampilan berbahasa yang meliputi
menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. LEA dimaknai sebagai suatu
pendekatan dalam pengajaran berbicara yang melibatkan kegiatan menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis sebagai cerminan dari pengalaman berbahasa
anak.
Menurut Harjasujana (1997:197),
hal-hal yang harus diperhatikan dalam Pendekatan Pengalaman Berbahasa (PPB)
adalah :
1. PBB merupakan suatu pendekatan pengajaran.
2. Materi ajar digali dari
pembelajar sendiri atau pengalaman berbahasa si pembelajar itu sendiri.
3. Pelaksanaan pembelajarannya
melibatkan seluruh aspek keterampilan berbahasa siswa secara integratif.
A. Keunggulan dan Kelemahan Pendekatan
Pengalaman Berbahasa
Keunggulan Pendekatan Pengalaman
Berbahasa adalah sebagai berikut.
1. Sifat Pendekatan Pengalaman
Berbahasa dimulai dengan soal perkembangan bahasa anak. Maksudnya, materi bahan
ajar yang digunakan untuk pengajaran berbicara sesuai dengan tingkat penguasaan
bahasa anak. Tugas untuk memilih bahan yang cocok menjadi ringan karena wacana
yang digunakan sudah dengan sendirinya sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa
anak.
2. Sifat Pendekatan Pengalaman
Berbahasa mengintegrasikan semua kegiatan kebahasaan. Dalam pelaksanaan proses
pembelajaran, anak-anak mendengarkan, berbicara, membaca, dan terkadang
menuliskan wacana yang tengah dikembangkan.
3. Pendekatan Pengalaman Berbahasa
mempunyai sifat wajar.
4. Pendekatan Pengalaman Berbahasa tidak
memerlukan banyak biaya.
Kelemahan Pendekatan Pengalaman
Berbahasa adalah sebagai berikut.
1. Sifat Pendekatan Pengalaman
Berbahasa hanya digunakan pada pengajaran penguasaan ketrampilan berbahasa
tingkat awal. Selanjutnya, Pendekatan Pengalaman Berbahasa dapat dikembangkan
pada pengajaran penguasaan keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca,
dan menulis untuk tingkat lanjut. Hal ini dapat dikembangkan karena ada
anak-anak yang duduk di kelas atas namun kemampuan penguasaan keterampilan
berbahasanya masih berada pada peringkat permulaan.
2. PBB menuntut waktu yang jauh lebih banyak
dibandingkan dengan pendekatan yang lain.
3. PBB menuntut agar selalu
menyadari adanya sejumlah keterampilan dan sejumlah kosakata sehingga guru
harus mengetahui apa yang akan diajarkan dan kapan mengajarkannya.
Dari paparan di atas dapat
disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan pengajaran kemampuan berbahasa dengan
menggunakan pendekatan pengalaman berbahasa ada beberapa keunggulan dan
kelemahan di dalamnya. Oleh karena itu, alangkah baiknya jika
kelemahan-kelemahan tersebut diatasi terlebih dahulu.
Cara mengatasi kelemahan tersebut
diantaranya sebagai berikut:
a. Guru terlebih dahulu harus
mengetahui taraf keterampilan berbahasa siswa. Setelah itu guru dapat
menerapkan Pendekatan Pengalaman Berbahasa dalam pembelajaran keterampilan
berbicara.
b. Karena Pendekatan Pengalaman Berbahasa
menuntut waktu yang lebih banyak dari metode yang lain, maka guru terlebh
dahulu membuat metode yang tepat dalam pembelajran berbicara denga Pendekatan
Pengalaman Berbahasa, sehingga dalam waktu yang relatif singkat tujuan pembelajaran
dapat tercapai.
c. Karena dalam pembelajaran menggunakan
Pendekatan Pengalaman Berbahasa melibatkan semua keterampilan berbahasa seperti
menyimak, membaca, dan menulis, serta sejumlah kosakata, maka guru harus dapat
memilih tema-temayang sesuai dengan kemampuan berpikir anak, dan kapan harus
mengajarkannya kepada siswa.
B. Tujuan dan Asumsi Pendekatan Pengalaman
Berbahasa
Menurut Space (Harjasujana,
1997:198) asumsi dasar penggunaan PBB ini adalah ekspresi bahasa lisan siswa
yang didasarkan pada pikiran, perasaan, dan pengalamannya sendiri yang dapat
ditulis dan dibca. Kegiatan ini dapat disamakan sebagaimana halnya siswa
membaca ide-ide orang lain yang telah dituangkan ke dalam wujud tulisan.
Menurut Huff (Harjasujana,
1997:198) Pendekatan Pengalaman Berbahasa menganut pandangan bahwa anak-anak
akan lebih mudah mengenali tulisannya sendiri, karena kata-kata yang tertuang
dalam tulisan tersebut merupakan refleksi atau cerminan dari kehidupannya sehari-hari.
Bahasa yang digunakan merupakan bahasa yang akrab dengan kehidupannya yaitu
bahasa yang menggambarkan latar belakang pengalaman pribadinya.
Pendekatan Pengalaman Berbahasa
merupakan suatu pendekatan yang bisa digunakan untuk pengajaran berbicara yang
diikuti oleh keterampilan berbahasa yang lain yaitu menyimak, berbicara,
membaca, dan menulis. Bahasa lisan anak merupakan landasan utama dalam
pengelolaan pembelajaran berbicara. Pendekatan Pengalaman berbahasa ini sangat
menekankan arti pentingnya kondisi awal pembelajar dalam hal kemampuan bahasa
lisan. Dengan demikian, pelaksanaan pembelajaran berbicara senantiasa diawali
oleh penggalian pengalaman berbahasa anak yang diungkapkan secara lisan,
kemudian direkam ke dalam bentuk tulisan maupun dalam bentuk kaset. Hasil
rekaman inilah yang kemudian dijadikan alat untuk pembelajaran berbicara.
Dengan kata lain, pendekatan Pengalaman Berbahasa menganut pandangan belajar
dari anak, untk anak, dan oleh anak.
Harapan dari pembelajaran dengan
pendekatan seperti inii adalah pembelajar akan lebih berhasil manakala sejak
awal si pembelajar meyakini dirinya mampu dan bisa melakukan sesuatu. Dengan
bahan ajar yang digali dari siswa sendiri, siswa diharapkan lebih mudah
memahami dalam pembelajaran. Dengan cara seperti ini siswa akan memiliki rasa
percaya diri dan menganggap semua yang dipelajari adalah sesuatu yang bermakna
(memiliki nilai guna).
C. Prosedur PBB dalam Pembelajaran
Berbicara
Prosedur Pendekatan Pengalaman
Berbahasa dalam pengajaran berbicara memiliki empat langkah sebagai berikut.
1. Mengidentifikasi minat, latar
belakang pengalaman, dan fasilitas bahasa lisan anak.
Pada langkah ini, guru berdialog
atau mengadakan percakapan ringan dengan anak. Misalnya bertanya tentang nama,
kesukaan, tentang berita atau kejadian aktual di sekitar lingkungan tempat
tinggal atau lingkungan sekolah. Langkah ini dimaksudkan untuk merancang dan
membangkitkan skemata anak, sehingga dia dapat mengeluarkan pikiran dan
perasaannya pada saat guru memintanya.
2. Merencanakan dan mendiskusikan pengalaman anak
atau topik tertentu yang dipilih anak.
Langkah ini dimaksudkan untuk
menggali pengalaman bahasa anak. Melalui rangsangan tertentu yang kemudian
dijadikan topik diskusi, guru membimbing anak untuk dapat mengekspresikan
pengalamannya melalui bahasa lisan.
3. Mencatat dan merekam bahasa
(cerita) anak
Pembelajaran pada tahap ini,
siswa menuliskan ataupun membacakan hasil tulisannya di depan kelas. Hal ini
dimaksudkan bahwa bacaan-bacaan lain yang ditulis orang lain dihasilkan melalui
proses yang sama seperti yang dilihat dan dialaminya pada saat itu.
4. Mengembangkan keterampilan anak
sesuai dengan kebutuhan
Pada langkah ini, barulah
pembelajran yang sesungguhnya dimulai. Berdasarkan hasil rekaman pengalaman
berbahasa siswa, guru mengawali pembelajaran berbicara. Dengan cara membacakan
ataupun memperdengarkan hasil rekaman pada siswa, guru mengajarkan hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam kegiatan berbicara serta melatih keterampilan
berbicara siswa sampai akhirnya siswa mempunyai keberanian dan keterampilan
dalam menyampaikan gagasan, pendapat, ide, dan menceritakan kembali kepada
orang lain baik secara lisan maupun secara tertulis.
PEMBELAJARAN
DENGAN HUMOR
Humor sebagai salah satu bentuk interaksi dan komunikasi
menyenangkan sudah beralih yang umumnya digunakan sebagai seni pertunjukkan
atau media hiburan menjadi sebuah strategi pembelajaran. strategi
pembelajaran menyenangkan merupakan upaya guru untuk menciptakan suasana
menyenangkan dalam pembelajaran. Upaya guru demi terlaksananya proses
belajar-mengajar yang efektif dapat dilakukan dengan memperhatikan lingkungan
fisik kelas, musik dalam pembelajaran, dan interaksi guru dengan siswa.
Di negara
lain humor telah menjadi objek kajian peneliti dan praktisi sejak lama. Meski
di Indonesia banyak anggapan yang menyatakan sisipan humor tidak bermanfaat,
mengganggu keseriusan belajar, merongrong wibawa guru atau dosen dapat saja
dibenarkan. Anggapan tersebut muncul karena mereka belum mengetahui betapa
humor itu memiliki efek yang amat baik dalam meningkatkan kualitas interaksi
dan komunikasi dalam pembelajaran. Humor dalam pembelajaran dapat dilakukan
guru dengan menggunakan sisipan kata-kata, bahasa, gambar, anekdot, cerita
singkat, kartun, karikatur, peristiwa sosial, pengalaman hidup, lelucon atau
plesetan yang dapat merangsang terciptanya suasana riang, rileks dan
menyenangkan dalam pembelajaran yang mampu menggelitik siswa untuk tertawa.
Bukan berbentuk lawakan yang terkadang menyangkut pribadi seseorang, politik,
sara, seks dan pornografi yang kurang bermanfaat. Secara garis besar ada empat
manfaat humor dalam pembelajaran, yaitu: membangun hubungan dan meningkatkan
komunikasi antara guru dan peserta didik, mengurangi stres, membuat
pembelajaran menjadi menarik, dan meningkatkan daya ingat suatu materi
pembelajaran.
Teori humor,
kajian empiris dan kecerdasan emosional. Teori humor menurut Kaplan dan
Pascoe (1977) dikelompokkan menjadi tiga yakni teori psikologi, teori
antropologi dan teori kebahasaan. Pembicaraan selanjutnya membahas mengenai
kajian empiris tentang humor bahwa selain humor menjadi objek kajian yang
menarik, sosok yang humoris merupakan kriteria pendidik yang disukai peserta
didik berdasarkan penelitian penulis. Hadirnya humor sebagai sarana dalam
menciptakan pembelajaran menyenangkan perlu didukung oleh kecerdasan emosional
yang memadai. Karena kecerdasan emosional ikut menentukan keberhasilan proses
dan hasil belajar.
Merencanakan
penggunaan humor dalam pembelajaran merupakan salah satu kemampuan penting yang
dibutuhkan seorang pendidik. Penulis membagi perencanaan dalam menyisipkan
humor menjadi dua jenis humor yakni planned humor dan unplanned humor.
Bagian kelima ini akan membantu kesulitan pendidik dalam memilih humor
yang tepat dan sesuai situasi dan kemampuan pendidik. Hal penting dalam
menyisipkan humor ini yakni meyakinkan dan mengarahkan peserta didik bahwa
bahan humor yang digunakan terkait secara kontekstual dengan pembelajaran
yang sedang dihadapi.
Menyajikan
humor tidaklah terus-menerus dilakukan selama pembelajaran. Hal yang harus
dilakukan adalah strategi dalam merancang waktu yang tepat agar tidak
menimbulkan masalah di dalam kelas. Kelas akan menjadi gaduh, materi tidak tersampaikan,
atau tujuan pembelajaran tidak tercapai. Karenanya bagian terakhir dalam buku
ini berbicara mengenai waktu dan teknik menggunakan humor. Waktu yang tepat
untuk menggunakan humor dalam pembelajaran dibagi menjadi tiga kesempatan yakni
perkenalan awal, saat jeda strategis, dan di akhir sesi pembelajaran.
Secara
keseluruhan materi yang kompleks berupa kajian teoritis tentang pembelajaran
yang menyenangkan melalui humor yang didukung oleh hasil penelitian yang
diadopsi dari tesis dan disertasi penulis, manfaat humor dalam pembelajaran,
merancang humor dalam menghadapi peserta didik, dan memperhitungkan waktu dan
teknik menggunakan humor. Pada prinsipnya, buku ini menjawab kesulitan peserta
didik dalam menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan melalui humor.
Buku ini dapat dijadikan pedoman bagi pendidik dan calon pendidik demi
tercapainya tujuan yang diharapkan dan terciptanya interaksi dan komunikasi
yang bermutu.
Assaammualaikum, mau tanya
ReplyDeleteAda referensi bukunya ga?